Senin, 11 Mei 2015
BAKU LOMBA UNTUK NIKAH
Diposting oleh Unknown di 03.49 0 komentar
Posting yang saya tulis saat ini agak beda dengan sebelumnya, karna kali ini saya mau mencoba menggali dan mengasah kemampuan saya dengan dialek Papua yang setiap harinya selalu saya pakai. so chek this out :
akhir-akhir ini sa dapat berita banyak skali dari sa pu teman-teman, ade-ade dan kaka-kaka dong banya yang su kawin (Nikah or Merit), tratau apa yang bikin sampe dong baku lomba begitu, pasti banyak dong pu alasan. mudah-mudahan dong pu pernikahan bisa bertahan sampe maut yang kasih pisah seperti yang su dijelaskan dalam Alkitab..
sa juga sebenarnya dan sudah rencana dengan sa kekasih (calon) untuk merit tahun ini, tapi mungkin nanti tong 2 bicarakan lagi karna banyak yang harus tong 2 siapkan, intinya tong 2 sendiri yang nanti urus semua, mama dan bapa, awin dan kamam dong 4 hanya dukung dan bantu lengkapi tong 2 saja..
sa dengan dia (sa pu cinta, Napi T) berharap tong 2 bisa bertemu dalam waktu dekat ini dan bahas dan atur tong 2 pu rencana lagi supaya waktu sa ke tempat tugas, sa sudah pikir pelayanan dan kumpul seribu untuk pake tambah persiapan trus dia juga bisa tenang untuk kerja dan kursus perdalam bahasa inggris lagi, ini penting karna berhubungan dengan tong 2 pu planing dan impian untuk anak-anak Papua khusus untuk dorang pu pendidikan.
ya semua ini tidak bisa jalan juga kalo Tuhan tidak berkehendak. jadi sa selalu berdoa untuk Tete manis, Manseren Allah, Tuhan Yesus supaya sa dengan T punya rencana ni semua bisa tercapai tahun ini atau awal tahun depan.
Terry N Mey
150685-031285
Jumat, 06 Maret 2015
Memori Abadi
Diposting oleh Unknown di 05.37 0 komentar
KEJUJURAN SEORANG ANAK
Ketika sedang melihat-lihat foto kegiatan waktu melakukan pelayanan ke Pulau Numfor tahun lalu, tiba-tiba muncul gambar di atas ini, saya sangat menyukai anak-anak kecil, rasanya bahagia dan tenang ketika melihat mereka bertingkah lucu, menyanyi dengan suara polos mereka, melihat mereka saling berkelahi dan pada akhirnya berdamai diantara sesama mereka dan masih banyak lagi hal-hal unik mereka yang lain.
Kisah tentang seorang anak di atas (Kedua dari kiri, yang memakai baju kaos hijau orange paling depan) membuat saya benar-benar tersentuh. Foto ini bermula ketika kami dijemput ketika kami tiba di Kampung Mandori, anak-anak inilah yang ada dan menyambut kami paling depan, saya pun tak sengaja mengabadikan momen ini.
Yang menjadi istimewa dari kisah ini adalah ketika saya dan Tery, Ketua PAM Efrat Darfuar sekaligus My BoyFriend hendak melakukan perjalanan ke kota Yenburwo dan ke Yenmanu membeli beberapa perlengkapan untuk kegiatan penutupan keesokan harinya dan saya dipercayakan oleh teman2 PAM untuk memegang uang tiket pulang kami semua di amplop coklat (Sampai disini mungkin kalian sudah bisa mendapat gambaran tentang akhir cerita ini ataukah belum?), waktu kami sudah pergi dan mendapat apa yang kami perlukan, pulangnya kami singgah di kampung Sandauw sekedar beristirahat dan kebetulan ada seekor ular Numfor yang ditangkap seorang saudara sehingga cukup menjadi pusat perhatian bagi kami semua yang sedang ada saat itu.
setelah saya dan Terry merasa cukup beristirahat, kamipun berpamitan dan melanjutkan perjalanan, setibanya kami di mata jalan kampung Mandori saya memutuskan untuk turun dari motor dan memilih berjalan kaki sambil olahraga sore, Terry sempat bertanya mengapa saya mau berjalan dan sebagainya, tapi saya memaksa dan turun dari motor dan berjalan kaki beberapa langkah saja dari Tery namun karena Terry terus menunggu akhirnya saya pun ikut dengannya di atas motor dan menuju kampung.
Perasaan saya tidak tenang dan gugup karena tiba-tiba saya melihat pada tas kamera saya rupanya amplop coklat berisi uang tiket kami untuk pulang ternyata hilang, sekejap lutut saya lemas, jantung saya berdetak kencang tak seirama seperti biasanya, apalagi kami sudah kesulitan untuk biaya pulang kami ke Biak. 'Oh Tuhan apa salah saya sehingga ini terjadi, apakah ini teguranMu kepada saya?' itulah kata-kata yang terlintas dan terkatakan dalam hati saya. saya dan Terry pun langsung kembali untuk mengecek di pinggiran jalan dan kampung Sandauw mungkin saja terjatuh disana. dalam perjalanan naik melewati mata jalan kampung Mandori, ada beberapa anak kecil duduk di sebuah pondok, saya pun menghampiri mereka dan berpesan jika mereka melihat amplop coklat yang jatuh tolong sampaikan kepada saya dan Terry di gereja, dan kamipun menuju ke kampung Sandauw. setibanya di sana nampak mama-mama dan beberapa orang bapa menanyakan kepada anak-anak yang mungkin melihat tetapi tidak seorangpun yang melihat, mereka juga nmapak khawatir dan memberi masukan agar nanti mereka memanggil seorang bapa yang punya keahlian untuk 'melihat' di air siapa yang mengambil uang kami, tetapi atas pertimabangan Terry dan saya kami tidak mau.
kami berdua pun kembali, di dalam perjalanan saya dinasehati oleh Terry supaya lebih teliti lagi dalam menjaga uang dan sekaligus menjadi koreksi bagi kami berdua. Tiba-tiba ketika kami sudah tiba di mata jalan kampung, 2 orang anak kecil memanggil kami dan mengatakan kalau ada seorang anak tadi membawa dan mendapat sebuah amplop coklat, kami pun diantar menuju rumah sang anak, dan kami disambut oleh ayah sang anak itu, dia mengatakan kalau tadi memang anaknya pulang bermain di pantai dia dan beberapa temannya mendapat sebuah amplop, dan ia menyerahkan kepada sang ayah, dalam benak sang ayah mungkin ini adalah uang pak guru tapi ketika melihat tulisan di luar amplop, disitu tertulis uang tiket PAM Efrat Darfuar. Saya pun memanggil anak itu dan tak terasa air mata saya jatuh tak tahan menahannya, saya tak habis pikir selama hidup saya di Pulau Numfor, Kampung Mandori ternyata ada anak yang memiliki kejujuran yang luar biasa, yang belum pernah saya dapati dan temui di manapun.
Peristiwa ini menjadi suatu kesaksian sekaligus tanda mata dan kesan ketika Terry menyampaikan kata-kata perpisahan di dalam gedung gereja Hewel disaksikan oleh kami semua dan anggota jemaat, mereka semua kaget, Terry pun tak kuasa menahan airmatanya, dia juga sangat terkesan dengan kejujuran anak itu, KUNDRAT namanya.
Belajar dari kisah ini, memanglah benar dan kita sebagai orang Kristen perlu mengimani dan mengamini apa yang Yesus ajarkan dan sampaikan bahwa, biarkan anak-anak datang kepada-Nya jangan menghalang-halangi mereka sebab merekalah yang mempunyai Kerajaan surga tapi juga barangsiapa tidak menyambut Dia seperti seorang anak kecil maka dia tidak layak masuk Kerajaan surga. Dari mulut bayi dan anak-anaklah Tuhan telah meletakan suatu dasar kekuatan.
saya bangga sebab pikiran, perbuatan dan hidup saya secara pribadi dicerahkan, ditegur dan disentuh oleh Tuhan Yesus lewat seorang anak kecil yaitu, Kundrat supaya belajar tentang hal kejujuran dalam menjalani kehidupan ini....
- Mandori -
The Secret
Diposting oleh Unknown di 02.53 0 komentar
Tak terasa tersisa 1 bulan, awal pekerjaan saya akan di mulai, ada perasaan senang, deg-degan, was-was tapi juga penasaran akan ditempatkan di manakah saya nanti? semuanya masih menjadi rahasia bagi saya....
berjuta harapan ada dalam otak ini tak kala memikirkan tempat baru bagi saya untuk mulai beradaptasi lagi dengan jemaat, alam dan budaya yang berbeda ....hanya Tuhan saja yang tahu perasaan saya saat ini. hanya Tuhan yang tahu ingin ke manakah saya nanti untuk melayani tapi juga untuk menggapai masa depan saya dengan rencana yang tlah saya miliki..
beberapa minggu yang lalu, Ketua Klasis Mimika, Pdt.D.Kaigere menyampaikan pesan kepada kami para pelayan, bahwa sesibuk apapun kita nanti di jemaat, jika kita cape atau lelah kita harus jujur mengatakan kepada majelis ataupun jemaat sehingga kita bisa beristirahat dan memulihkan tenaga sehingga bisa kembali melaksanakan pelayanan. Sebab Pekerjaan ini tidak akan pernah selesai, kita yang ada ini nanti akan diganti dengan yang lain.....
memang benar apa yang disampaikan oleh bapa Pdt, dengan melihat serta mengalami peritiwa atas terpanggilnya alm. Pdt.Y.Tata pada bulan februari yang lalu. sebelum dipanggil oleh Tuhan, alm. masih terus bekerja dan melayani jemaatnya bahkan tak tahan rasanya alm walau dalam keadaan sakitpun dia terus melayani tanpa memikirkan kesehatannya. Hal ini menjadi catatan penting bagi saya secara khusus ketika nanti ada di jemaat supaya memperhatikan hal-hal ini.
1 April 2015 merupakan babak baru lagi dalam hidup saya, menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus mungkin inilah yang nantinya akan saya kerjakan dan lakukan, serta jawaban serta komitmen iman Yeremia ketika Tuhan menyatakan diri kepadanya, saya pun mengaku : Ini Aku, Utuslah Aku.....
Rabu, 25 Februari 2015
PEKERJA DI LADANG TUHAN
Diposting oleh Unknown di 15.19 0 komentar
S A N G P E N D E T A
Kalau ia muda dianggap kurang pengalaman
Tapi bila rambutnya beruban, ia dianggap terlalu tua
Kalau keluarganya besar, ia beban bagi jemaat
Bila tidak mempunyai anak, ia tidak bisa diteladani
kalau isterinya aktif, dituduh mau menonjolkan diri
Kalau tidak aktif, ia tidak mendukung pelayanan suami
Kalau khotbahnya membaca, sangat membosankan
Kalau di luar kepala, tandanya tidak mempersiapkan diri
Kalau ia berusaha melakukan pembaruan, akan dituduh sewenang-wenang
Kalau hanya melanjutkan apa yang ada, ia dianggap boneka
kalau khotbahnya banyak ilustrasi, ia kurang alkitabiah
kalau tidak, khotbahnya terlalu sulit
kalau khotbahnya panjang, membuat orang ngantuk
kalau khotbahnya pendek, ia pemalas
kalau ia gagal menyenangkan hati seseorang, itu berarti ia menyakiti jemaatnya
Kalau ia berusaha menyenangkan hati semua orang, itu berarti penjilat
Kalau ia terus terang dalam kebenaran, ia dianggap sengaja menyinggung perasaan
Kalau tidak, ia pengecut
Ia mesti bijaksana seperti burung hantu
Gagah berani laksana burung rajawali
Rendah hati bak burung merpati
bersedia makan apa saja seperti burung kenari
ia mesti seorang ekonom, politikus, pencari dana, penasehat perkawinan
Bapak yang bijaksana, sopir taksi yang ramah,
Orator yang ulung dan gembala yang arif
Ia mesti melayat semua orang sakit
Semua yang menikah dan semua orang yang mati
Ia mesti bisa bergaul dengan anak-anak, remaja, pemuda sampai orang jompo
Ia mesti pandai bicara dan menulis
Ia seorang pelayan yang harus mau merendah
Sekaligus pemimpin yang berwibawa.
(Karya : NN)
Langganan:
Komentar (Atom)









