Jumat, 06 Maret 2015
Memori Abadi
Diposting oleh Unknown di 05.37
KEJUJURAN SEORANG ANAK
Ketika sedang melihat-lihat foto kegiatan waktu melakukan pelayanan ke Pulau Numfor tahun lalu, tiba-tiba muncul gambar di atas ini, saya sangat menyukai anak-anak kecil, rasanya bahagia dan tenang ketika melihat mereka bertingkah lucu, menyanyi dengan suara polos mereka, melihat mereka saling berkelahi dan pada akhirnya berdamai diantara sesama mereka dan masih banyak lagi hal-hal unik mereka yang lain.
Kisah tentang seorang anak di atas (Kedua dari kiri, yang memakai baju kaos hijau orange paling depan) membuat saya benar-benar tersentuh. Foto ini bermula ketika kami dijemput ketika kami tiba di Kampung Mandori, anak-anak inilah yang ada dan menyambut kami paling depan, saya pun tak sengaja mengabadikan momen ini.
Yang menjadi istimewa dari kisah ini adalah ketika saya dan Tery, Ketua PAM Efrat Darfuar sekaligus My BoyFriend hendak melakukan perjalanan ke kota Yenburwo dan ke Yenmanu membeli beberapa perlengkapan untuk kegiatan penutupan keesokan harinya dan saya dipercayakan oleh teman2 PAM untuk memegang uang tiket pulang kami semua di amplop coklat (Sampai disini mungkin kalian sudah bisa mendapat gambaran tentang akhir cerita ini ataukah belum?), waktu kami sudah pergi dan mendapat apa yang kami perlukan, pulangnya kami singgah di kampung Sandauw sekedar beristirahat dan kebetulan ada seekor ular Numfor yang ditangkap seorang saudara sehingga cukup menjadi pusat perhatian bagi kami semua yang sedang ada saat itu.
setelah saya dan Terry merasa cukup beristirahat, kamipun berpamitan dan melanjutkan perjalanan, setibanya kami di mata jalan kampung Mandori saya memutuskan untuk turun dari motor dan memilih berjalan kaki sambil olahraga sore, Terry sempat bertanya mengapa saya mau berjalan dan sebagainya, tapi saya memaksa dan turun dari motor dan berjalan kaki beberapa langkah saja dari Tery namun karena Terry terus menunggu akhirnya saya pun ikut dengannya di atas motor dan menuju kampung.
Perasaan saya tidak tenang dan gugup karena tiba-tiba saya melihat pada tas kamera saya rupanya amplop coklat berisi uang tiket kami untuk pulang ternyata hilang, sekejap lutut saya lemas, jantung saya berdetak kencang tak seirama seperti biasanya, apalagi kami sudah kesulitan untuk biaya pulang kami ke Biak. 'Oh Tuhan apa salah saya sehingga ini terjadi, apakah ini teguranMu kepada saya?' itulah kata-kata yang terlintas dan terkatakan dalam hati saya. saya dan Terry pun langsung kembali untuk mengecek di pinggiran jalan dan kampung Sandauw mungkin saja terjatuh disana. dalam perjalanan naik melewati mata jalan kampung Mandori, ada beberapa anak kecil duduk di sebuah pondok, saya pun menghampiri mereka dan berpesan jika mereka melihat amplop coklat yang jatuh tolong sampaikan kepada saya dan Terry di gereja, dan kamipun menuju ke kampung Sandauw. setibanya di sana nampak mama-mama dan beberapa orang bapa menanyakan kepada anak-anak yang mungkin melihat tetapi tidak seorangpun yang melihat, mereka juga nmapak khawatir dan memberi masukan agar nanti mereka memanggil seorang bapa yang punya keahlian untuk 'melihat' di air siapa yang mengambil uang kami, tetapi atas pertimabangan Terry dan saya kami tidak mau.
kami berdua pun kembali, di dalam perjalanan saya dinasehati oleh Terry supaya lebih teliti lagi dalam menjaga uang dan sekaligus menjadi koreksi bagi kami berdua. Tiba-tiba ketika kami sudah tiba di mata jalan kampung, 2 orang anak kecil memanggil kami dan mengatakan kalau ada seorang anak tadi membawa dan mendapat sebuah amplop coklat, kami pun diantar menuju rumah sang anak, dan kami disambut oleh ayah sang anak itu, dia mengatakan kalau tadi memang anaknya pulang bermain di pantai dia dan beberapa temannya mendapat sebuah amplop, dan ia menyerahkan kepada sang ayah, dalam benak sang ayah mungkin ini adalah uang pak guru tapi ketika melihat tulisan di luar amplop, disitu tertulis uang tiket PAM Efrat Darfuar. Saya pun memanggil anak itu dan tak terasa air mata saya jatuh tak tahan menahannya, saya tak habis pikir selama hidup saya di Pulau Numfor, Kampung Mandori ternyata ada anak yang memiliki kejujuran yang luar biasa, yang belum pernah saya dapati dan temui di manapun.
Peristiwa ini menjadi suatu kesaksian sekaligus tanda mata dan kesan ketika Terry menyampaikan kata-kata perpisahan di dalam gedung gereja Hewel disaksikan oleh kami semua dan anggota jemaat, mereka semua kaget, Terry pun tak kuasa menahan airmatanya, dia juga sangat terkesan dengan kejujuran anak itu, KUNDRAT namanya.
Belajar dari kisah ini, memanglah benar dan kita sebagai orang Kristen perlu mengimani dan mengamini apa yang Yesus ajarkan dan sampaikan bahwa, biarkan anak-anak datang kepada-Nya jangan menghalang-halangi mereka sebab merekalah yang mempunyai Kerajaan surga tapi juga barangsiapa tidak menyambut Dia seperti seorang anak kecil maka dia tidak layak masuk Kerajaan surga. Dari mulut bayi dan anak-anaklah Tuhan telah meletakan suatu dasar kekuatan.
saya bangga sebab pikiran, perbuatan dan hidup saya secara pribadi dicerahkan, ditegur dan disentuh oleh Tuhan Yesus lewat seorang anak kecil yaitu, Kundrat supaya belajar tentang hal kejujuran dalam menjalani kehidupan ini....
- Mandori -
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar